FILOSOFI POHON

Sebuah alkisah tentang pohon mangga yang begitu besar dan rindang. Panasnya terik matahari mampu dihalanginya menembus rumah Abu. Setiap sepulang sekolah, Abu dan teman-temannya selalu bermain di halaman rumah Abu yang rindang karena pohon mangga besar itu. Angin yang selalu berhembus sepoi-sepoi terkadang membuat Abu dan teman-temannya terlelap di halaman itu.

Hingga suatu hari, cuaca begitu panas. Angin tak sedikitpun ada yang mampir. Pohon mangga itu tetap terdiam, tak bergerak sedikitpun. Abu dan teman-temannya merasa kegerahan. Mereka memandangi pohon mangga itu dan bersiul kepadanya, berharap angin berhembus dan menggoyangkan seluruh dahan dan ranting pohon mangga itu.

“Angin tetap tak datang”, sahut Abu kepada teman-temannya.

“Sabarlah sedikit. Nanti juga pasti datang !!”, jawab Umar, salah satu temannya.

Abu kembali bersiul. Namun tak lama kemudian Abu menuju ke belakang rumah.

“Bu, mau kemana kau?” tanya Ali penasaran.

“Tunggulah disitu sebentar. Aku mau ambil sesuatu.”, sahut Abu sambil berlari menuju belakan rumah.

Selang lima menit, Abu datang dengan membawa parang yang lumayan besar.

“Bu, apa yang akan kau lakukan dengan parang itu?”, teriak Umar kaget melihat Abu membawa parang.

“Aku sudah cukup sabar menanti pohon ini bergerak. Aku sudah tidak tahan. Lebih baik aku tebang saja pohon ini. Dasar pohon tak tahu diri.”, omel Abu sambil bersiap-siap menebang pohon mangga besar itu.

“Prak…!!! Prak…!!! Prak…!!!” Abu mulai memukuli pohon itu dengan parangnya yang tajam, setajam pedang Diponegoro.

“Apa kau sudah gila Bu?” teriak Ali dan Umar.

“Sudahlah, kalian diam saja. Kalau tidak mau bantu, pulang sajalah kalian.”, Abu menimpali sambil tetap memukuli pohon mangga besar itu.

Pohon itu tetap terdiam, bergerak hanya sesaat ketika mata parang menghujam batangnya yang besar.

“Tes…tes…tes…?!!”, pohon itu meneteskan getahnya setelah parang itu tercabut dari batangnya.

Sambil terus memukuli pohon mangga besar itu, Abu pun mengomel, “Dasar pohon tak tau di untung. Kau pikir ibuku tidak capek mengurusmu setiap hari? Kau pikir semudah itu kau bisa tumbuh besar di depan halaman rumahku? Kalau saja bapakku tak menemukanmu, mungkin kau tak pernah bisa hidup selama ini.”.

Pohon itu tetap terdiam, tak ada kata-kata yang terlontar. Tak ada dahan yang mencoba membalas perlakuan Abu. Dia hanya terdiam, sambil meneteskan getahnya hingga batangnya sedikit-demi sedikit mulai mengelupas dan terkuak.

Abu tetap bersikeras memukuli pohon mangga besar itu dengan parangnya, hingga tak lama kemudian, “Kraaataakk….kraaataakk…kraaataakk…!!! Brrruaaakk…!!!”, pohon itu pun terhuyung dan kemudian jatuh tepat di depan Abu. Batangnya yang besar terbaring menghalangi jalan di depan rumah Abu dan pohon itu tetap terdiam.

“Ha…ha…ha…!!! Mampus kau sekarang pohon !!! Tak ada lagi yang mengurusmu, matilah kau sekarang..!!!” teriak Abu penuh dengan perasaan bahagia karena bisa mengalahkan pohon mangga besar itu.

Keesokan harinya, Abu melihat batang pohon itu tergolek di tanah kosong sebelah rumah Abu. Daunnya mengering, batangnya berbaur dengan sampah-sampah yang setiap sore selalu di bakar oleh Ibu Abu. Abu menghentikan langkahnya, kemudian tersenyum, lalu kembali berlari pulang.

Seperti biasa, sepulang sekolah, Abu makan siang dan bermain di depan halaman rumahnya sambil menunggu kedatangan Umar dan Ali sahabatnya. Terik matahari begitu panas. Sinarnya dengan bebas memasuki halaman rumah Abu tanpa terhalang apapun. Abu kebingungan mencari tepat yang rindang untuk berteduh. Abu mengumpat kesal, “Huh…bagaimana ini ? Semua tempat panas, Aku jadi bingung mau bermain dimana?”.

Tak lama kemudian Umar dan Ali datang. Tapi begitu kagetnya Abu melihat mereka berdua hanya memanggil dari luar pagar.

“Abuuuu….!!!!”, teriak mereka berdua.

“Ku tunggu kau dari tadi, kenapa baru muncul sekarang?”, sahut Abu menghampiri.

“Halaman rumahmu sekarang panas Bu. Kita sekarang bermain di rumah Amir. Dia buat rumah kecil di atas pohon. Pamannya yang membuatkan.”, kata Umar.

“Iya bu. Mungkin lebih baik kau juga ikut dengan kami ke rumah Amir. Iya nggak Mar?”, kata Ali.

“Benar Bu.”, sahut Umar menimpali.

“ Yuk Mar, kita berangkat sekarang. Amir sudah menunggu. Kita duluan ya Bu. Kalau kau mau, kami tunggu kau disana.”, kata Ali sambil mulai mengayuh sepedanya menjauh dari pagar rumah Abu.

Abu hanya terdiam. Tak sepatah katapun terucap. Dia hanya melihat kedua temannya mulai mengayuh sepedanya dan pergi meninggalkannya.

Abu melihat ke arah akar pohon mangga besar yang masih menancap disana lalu menghampirinya. Telapak tangannya digosok-gosokkan di bekas tebangan. Abu tertunduk lalu akhirnya mulai menangis sesenggukkan dan berkata, “Pohon mangga besar…, maafkan Abu ya. Gara-gara Abu pukuli kau dengan parang, sekarang Abu tak punya lagi teman untuk bermain, tak ada lagi tempat teduh untuk bermain. Terik matahari itu sekarang bebas memasuki halaman rumahku. Saat kupukuli dan kau tetap diam, Abu pikir kau memang tak mungkin bisa membalas karena takut, ternyata bukan. Sekarang Abu sadar kalo Abu salah, Abu kalah. Kau benar pohon mangga besar, dengan diam-pun, seseorang yang berbuat merugikan sekitarnya pasti akan terima akibat dari perbuatannya sendiri. Abu janji pohon mangga besar. Kalo kau tumbuh lagi, Abu akan sirami kau setiap hari”.

Abu mengusap air matanya yang banyak menetes di batang pohon mangga besar itu kemudian melangkahkan kaki, berlalu memasuki rumahnya.

Beberapa hari kemudian sepulang sekolah, tiba-tiba Abu melihat sesuatu di atas pohon mangga besar itu. Abu memperlahan langkah kakinya sambil mengernyitkan dahi.

“Apa itu diatas batang pohon mangga besar?” gumam Abu.

Abu mendekati pohon mangga besar itu dan mengamatinya. Betapa gembiranya hati Abu. Ternyata pohon mangga besar itu mengeluarkan ranting dan daun muda. Masih sangat kecil memang, tapi pohon mangga besar itu seperti kembali tumbuh. Abu meloncat-loncat kegirangan. Abu segera berlari menuju sumur belakang rumahnya lalu mengambil satu ember berisi air tanpa sempat mengganti pakaian sekolahnya. Kemudian Abu kembali menuju ke tempat pohon mangga besar itu dan menyiramnya.

“Aku tak akan lupa janjiku pohon mangga besar. Akan aku sirami kau setiap hari hingga kau tumbuh besar lagi” kata Abu senang sambil terus menyirami dahan muda itu.


About this entry