LUKISAN TERMAHAL
Jam menunjukkan pukul delapan malam, perutku mulai terasa keroncongan. Aku hitung uang yang ada di saku blue jeansku, ternyata masih ada seribuan tiga, lima ratusan tiga dan lima uang seratusan. Aku rasa cukup untuk mengisi tangki yang sudah mulai miring ini. Kumatikan lampu kamar dan mengunci pintu kemudian aku melangkahkan kaki ke warung kopi yang tidak begitu jauh dari kosku. Kira-kira seratus meter.
Ketika tiba disana, warung sudah mulai ramai. Mahasiswa dari berbagai jurusan di sebuah Universitas Pariwisata tempat aku menuntut ilmu banyak bergerumun disitu. Meski terkesan sederhana, namun warung kopi pak Blangkon ini memang tempat yang asik untuk meratapi nasib sebagai anak kos. Pemandangan hutan jati dan suara serangga malam di depan warung memang membuat segalanya bisa menjadi bahan renungan dan sumber inspirasi.
Lucunya, dari semua mahasiswa yang bisa dibilang tidak pernah absen kecuali warung tutup ini, tidak ada satupun yang memiliki cita-cita sesuai dengan kuliah maupun jurusan yang ditempuhnya. Semuanya seniman dan politikus.Yang menjadi obrolan setiap hari pun hanya berkisan tentang maha karya seni dan politik. Lainnya, tak lebih hanyalah pendukung.
“Hei Bang, apa yang kau lamunkan hah..!!”suara si Ucok yang paling gemar ngobrol masalah politik ini mengejutkanku.
“Ah..tidak ada yang kulamunkan.” jawabku santai.
“Tidak punya istri tidak punya anak kok melamun. Tak usah kau pikirlah negara kita ini, percuma saja sebentar lagi juga akan hancur. Coba kau lihat teman-teman kita di kampus itu. Mereka hanya bicara soal hura-hura, harta yang hanya sumbangan orang tua, lawan jenis dan endingnya sexual !! Coba kau pikir Bang !!” dia berhenti sejenak untuk meneguk secangkir kopi susu hangat yang sudah tinggal setengah.
“Tidak ada sama sekali dalam benak mereka untuk memberikan sesuatu yang berguna bagi bangsa ini. Kalau ditanya soal negara…, jawabannya pasti “Udah deh, nggak usah lu pikirin negara ini, biar pemerintah yang ngatur. Gaul man…gaul..!! Kita ini masih muda, jangan lu sia-sia’in deh,ntar tua nyesel mampus lu..!!”. Tangannya digerak-gerakkan menirukan gaya bicara orang yang dimaksud.
“Sungguh enteng sekali dia ngomong..!! Negara kita hancur gaullah kau !!”.
“Sudahlah..!! Biarkan saja mereka. Itu kan tergantung kesadaran masing-masing”. Aku berusaha menenangkan Ucok yang kelihatannya sudah tampak jengkel sekali. Kembali Ucok meneguk kopinya yang sudah hampir habis.
“Iya cok, untuk apa kamu sentimen begitu, nggak ada gunanya.”. Jupri yang dikenal sebagai pujangga kampus menimpali.
“Biarkan alam yang berbicara, dan embun pagi yang akan memberi gambaran tentang hidup ini”.
Semua bersurak”Huuu…huuu…”ketika Jupri melontarkan kata-kata puitisnya.
“Tak usah ikut campurlah kau !! Kau kirim saja sajakmu itu ke majalah Trubus. Aku berani jamin pasti laku keras !!” Ucok menimpali dengan kesal di iringi tawa semua yang ada disana.
“Pesan apa De ?” Pak Blangkon menanyaiku, karena melihat sedari tadi belum ada apapun di depanku.
“Es teh saja pak.”, Lalu aku mengambil nasi bungkus yang letaknya tidak jauh dari hadapanku.
“Aku makan dulu Cok. Apa kamu tidak makan ?” tanyaku.
“Sudah..sudah. Kau makan sajalah, aku sudah makan tadi. Aku permisi sebentar De, mau ke belakang dulu.”.
“Oh iya.., Silakan…” kemudian aku melahap makanan yang sudah kubuka bungkusnya.
“Perhatian teman-teman…!!Ada berita baru !!”. Aku yang baru saja menyelesaikan makanku dan teman-teman yang lain melihat ke arah Ario.
“Ada apa ? Nenekmu mau kawin lagi, terus kamu jadi pingin. Gitu…!!”. Erwin yang sedari tadi memegang gitar, polpen dan kertas, mennyahut dari arah belakang. Kontan saja semua tertawa terpingkal-pingkal. Satu musisi itu memang kalo ngomong tidak pernah dipikir. Aku yang waktu itu minum jadi tersedak gara-gara ingin tertawa mendengarnya.
“Ya sudahlah, kalo tidak ingin tahu.” sambil menekuk mukanya dan memasang mimik kesal, pemain theater yang sudah punya jam terbang internasional itu kembali duduk.
“Ngambek nih ceritanya. Baru segitu aja udah marah.” Jupri menambahkan.
“Kabar baru apa sih ? Teruskan dong ceritanya Yo” tanyaku pada Ario karena penasaran “. Semua terdiam menunggu reaksi dari Ario.
“”Terima kasih sebelumnya atas perhatian teman-teman sekalian, juga pak Blangkon”. Ario kembali berdiri.
“Semua tahu Agus kan” ucap Ario.
“Agus pelukis itu.” aku menjawab setahuku.
“Iya’…sepuluh buat Dede, sembilan puluh untuk saya” sahut Ario.
“Huuu…huuu…!!” semuanya berteriak.
“Agus kenapa ?” tanyaku sedikit mendesak.
“Tenang De, ini kabar gembira bukan kabar burung kok apa lagi kabar-kabari. Itukan yang di TV” sahut Ario sekenanya.
“Begini… Aku kemaren main ke kosnya Agus. Terus Agus bercerita kalo lukisan bidadari yang menurutku nggak beda jauh sama gambar kambing itu sudah laku terjual. Dan yang bikin aku nggak percaya, itu lukisan harganya Seratus tiga ribu juta rupiah dan itu semua di bayar pakai duit bukan separuhnya bawang Bombay satu truk”. Mendengar celoteh Ario kontan semua tertawa terbahak-bahak.
“Memangnya siapa orang gila yang mau beli itu lukisan ?” Ucok yang sudah kembali duduk disebelahku bertanya.
“Yang beli teman bapaknya Agus” jawab Ario. Semua mulai penasaran, karena mereka tahu sendiri lukisan Agus itu seperti apa. Bukannya menghina, tetapi semua lukisan Agus itu walau gambarnya berbeda, tapi warnanya pasti biru, putih dan kuning.
“Begini ceritanya..” Ario mulai berpidato.
“Minggu lalu teman bapaknya Ario ini datang ke rumah Ario, untuk menanyakan mobil panther yang biasa di pakai Ario itu karena katanya mau dijual.”. Aku jadi makin bingung.
”apa hubungannya mobil Ario sama lukisan itu ?”.
“Hei…kau cerita jangan ngawur ya..!!” Ucok mulai kesal.
“Sabar Cok, aku kan belum selesai” jawab Ario. Semua jadi makin serius mendengarkan cerita Ario ini. Termasuk Erwin, langsung menghentikan kegiatannya mengarang lagu karena inspirasinya hilang gara-gara cerita Ario ini.
“Setelah melakukan transaksi dan melihat kondisi mobil terjadi kesepakatan harga. Pak Gatot, teman bapaknya Ario itu menyerahkan sejumlah uang tunai kepada bapaknya Ario. Bapaknya Ario segera memberikan kunci mobil beserta surat-surat penting ke pak Gatot. Setelah berjabat tangan, pak Gatot pulang dengan mobilnya.
“Lalu bagaimana dengan lukisan yang kamu maksud tadi ?” aku bertanya.
“Nah…!! lukisan Ario yang katanya bergambar bidadari itu ternyata berada di dalam bagasi mobil tersebut karena Ario lupa mengambilnya untuk di bawa pulang dan harga yang telah disepakati adalah Seratus tiga ribu juta rupiah. Itu kan berarti lukisan Ario laku terjual…!!”. Setelah mendengar cerita Ario, kontan saja semua mengejar ario yang lari sambil tertawa melihat teman-temannya termasuk aku ditipunya.
Aku jadi geli bercampur jengkel mendengar cerita Ario termasuk si Ucok.
“Wuah..!! Beraninya Ario itu menipuku. Sudah bosan hidup rupanya dia” umpat Ucok. Aku berdiri dan membayar semua pesananku. Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
“Aku pulang dulu Cok” aku beranjak dari warung dan melangkah ke kosku sambil tersenyum sendiri. Ada-ada saja Ario itu. Tapi benar juga apa yang dikatakan Ario tadi, secara tidak langsung memang itu lukisan termahal yang di buat Agus selama ini.
About this entry
You’re currently reading “LUKISAN TERMAHAL,” an entry on adityarachman.wordpress.com
- Published:
- May 28, 2008 / 1:07 am
- Category:
- CERPEN
- Tags:
- CERPEN, lukisan termahal
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]