SATU BINTANG

Malam makin larut, hujan gerimis yang mulai sore membasahi kota Denpasar nampak belum menunjukkan kelelahan. Vina duduk termangu di depan kamar kosnya sambil menikmati alunan gemericik air selokan.

“Vin, belum tidur?” sapa Dewi dari sebelah kamar membuyarkan lamunan Vina.

“Eh,belum.” Vina mejawabnya pelan.

Melihat Vina sendirian, Dewi mengurungkan niatnya untuk tidur. Dewi melangkahkan kaki menuju ke tempat Vina kemudian duduk disebelahnya. Dewi melihat mata Vina begitu sembab, wajahnyapun pucat.

“Vin,kamu sakit?” Tanya Dewi cemas.

“Nggak kok.” sahut Vina sambil memaksakan senyum tanpa melihat Dewi.

“Aku tahu, pasti kamu mikirin acara Valentine besok kan. Pasti bingung ya mo milih jalan ma siapa.” Dewi mencoba menerka kegelisahan Vina.

Vina tidak langsung menjawab. Vina terdiam lalu menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar isak tangis Vina.

Dewi makin cemas .

“Vin kamu kenapa?”. Dewi kemudian mencoba memeluk dan menenangkan Vina.

“Apa yang kamu pikirkan Vin?” Dewi bertanya lagi.

Vina hanya memnggelengkan kepala sambil sesenggukan. Vina melepaskan pelukan Dewi lalu mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata.

“Vin,kita berteman udah lama, kalo aku punya masalah, aku selalu cerita ke kamu dan kamu nggak pernah keberatan menjadi pendengar setia so nggak mungkin dong giliran kamu kena masalah trus aku diem aja.” Sahut dewi sambil membelai rambut Vina yang hitam kelam.

Vina menatap Dewi kemudian kembali matanya menerawang.

Vina kemudian membalikkan badan ke arah Dewi,“Wik,ak… aku kangen wik!?!”

“Kangen..?? ama siapa, bokap-nyokap?” tanya Dewi.

“Nggak.” Jawab Vina pelan.

“Aku kangen sama Rio, Wik!?! Sudah satu tahun ini aku nggak pernah dengar kabar darinya.” Vina mulai bercerita.

Dewi terlihat serius mendengarkan keluh kesah Vina

“Bukannya kamu nggak suka sama Rio, Vin?” Dewi jadi penasaran.

“Kamu sendiri kan yang bilang ke aku, Rizka ama Sophie kalo kamu benci banget ma dia. Inget nggak waktu kita makan bareng di Bronx café? Kamu jelek-jelekin si Rio ke kita-kita. Kamu bilang Rio anaknya norak, item, gak keren, gak gaul, sok roman, inilah itulah..! Iyakan !?!” sahut Dewi.

“Iya…memang aku akui, aku pernah ngejelek-jelekin dia, tapi waktu itu aku nggak sadar kalo ternyata aku tuh sayang banget ma dia. Aku baru sadar setelah dia pindah kuliah ke Surabaya.” Lalu Vina diam sebentar.

Dewi tetap menyimak cerita Vina sambil mengapit kedua kakinya karena dinginnya angin malam.

Kembali Vina bercerita.

“Kamu tau nggak, Wik? Dulu sewaktu aku masih akrab dengannya, dia pernah mencoba mengutarakan isi hatinya padaku.”

“Lalu…kamu menolaknya. Begitu…?!.” Sahut Dewi

“Iya..!!” jawab Vina sambil mengangguk pelan.

Dewi mengernyitkan dahinya lalu bertanya, “Kalo boleh tau, apa sih yang membuat kamu jatuh hati sama Rio?”

Vina menarik nafas dalam-dalam kemudian dihembuskannya.

“Yang membuat aku tertarik sama Rio itu karena dia selalu tenang dalam menghadapi semua masalah. Setiap Aku menceritakan masalahku, dia selalu dapat memberikan solusi yang terbaik dan tidak pernah memihak. Aku sepertinya damai banget kalo deket sama Rio.” cerita Vinna.

“Lalu…kenapa kamu menolaknya waktu itu? Aku jadi nggak ngerti deh.” tanya Dewi bingung.

“Karena aku malu Wik. Kamu ngerti kan, temen-temen kalo jalan sama cowoknya pasti having fun. Entah itu ke Cafe, nongkrong di mall ato apalah. Sedangkan Rio..kalo jalan sama aku paling ke toko buku, kalo nggak ke pantai terus duduk di atas pasir sambil dengerin suara gemuruh ombak yang berkejaran tiada henti itu. Katanya suara ombak itu sama dengan kehidupan manusia yang selalu bergejolak, terkadang pelan, terkadang keras, begitu tak menentu. Terus menerus gitu, lama-lama kan bete Wik.”

“Vin, Vin..!?! Kamu ini lucu. Ngapain malu. Mestinya kamu bangga dong punya cowok seperti Rio. Dia nggak seperti cowok-cowok lain. Ingat Vin, kita udah nggak ABG lagi. Makin bertambah usia kita, makin bertambah pula masalah yang bakal kita hadepin.” Dewi berkomentar.

“Iya…aku tahu itu.” jawab Vina.

“Tapi sepertinya aku hanya bisa menyesal. Semua udah terlambat Wik. Nasi sudah terlanjur menjadi bubur.” kemudian Vina terdiam.

Dewi menggenggam jemari Vina lalu berkata, “Vin, nggak ada yang perlu kamu sesali. Kamu harus yakin satu hal, bahwa jodoh nggak akan lari kemana. Kalo Rio itu memang diciptakan oleh-Nya untuk berada di sisimu, dia pasti kembali. Kamu tenang aja ya.”

Vina menatap wajah Dewi kemudian tersenyum lalu memeluk tubuh Dewi erat.

“Wik, thank’s ya. Kamu mau dengerin keluh kesahku.”

“Ah…kamu ini. Memangnya aku siapa, pake say thank’s segala. Nah, sekarang mending kamu tidur, Ok !?!” kemudian Dewi mengecup kening Vina.

Mereka berdiri lalu berjalan masuk ke kamar masing-masing.

“Vin..!! Met bobok ya. Moga mimpi indah.”

“Yap. Kamu juga Wik.” sahut Vina sambil tersenyum kemudian menutup pintu kamar.

Sementara hujan di luar nampak sudah berhenti. Tinggal angin malam yang terus berkelana membawa dingin yang serasa menusuk tulang.

Tepat pukul sepuluh pagi. Cuaca kelihatan tampak cerah tidak sedikitpun kabut terlintas diantara langit biru yang menyelimuti bumi.

Vina yang baru saja selesai mandi langsung menyalakan radio yang tidak jauh dari tempat tidurnya, kemudian Vina mengambil sebuah novel karya Jean Rocher yang berjudul ‘Lelehan Musim Api’. Ceritanya mengenai ketegaran seorang pemuda Bali yang merantau ke ibukota Indonesia ini membuat Vina tertarik untuk membacanya.

Ketika Vina larut dengan novel dan samar-samar terdengar alunan lagu Dewa, tampak seorang pemuda dengan rambut panjang mengenakan kaos putih polos dan blue jeans belel berdiri di depan pintu kamar yang memang sengaja dibuka Vina biar sirkulasi udara berjalan lancar.

“Pagi Vin.” Pemuda itu menyapa Vina.

Vina melihat ke arah pintu kamar. Vina tampak kaget melihat pemuda berambut panjang yang tersenyum padanya hingga novel yang dipegangnya terjatuh ke lantai.

“Apa aku mengganggumu Vin?” ucap pemuda itu.

“Rioooo….!!!” Vina berteriak langsung melompat dari tempat tidurnya dan memeluk pemuda yang ternyata Rio itu dengan erat.

Vina mengeluarkan air mata bahagia dalam pelukan Rio.

“Rio..jangan tinggalin aku lagi ya..?! Aku sayang kamu.” Ucap Vina sambil membasuh air matanya dalam pelukan Rio.

Rio melepas pelukan Vina lalu tangannya yang kokoh memegang lembut wajah Vina sambil berkata pelan, “Vin,aku pergi bukan untuk meninggalkan, tetapi aku pergi untuk mengambil satu bintang yang selalu menerangi hatiku dan memberikannya untukmu. Aku juga sayang kamu Vin, selamanya”

Mereka saling pandang lalu berciuman mesra disertai tepuk tangan anak-anak kost yang ternyata diam-diam memperhatikan dari dalam kamar masing-masing.


About this entry